Peran Media dan Penulis Pemula

 Peran Media Dan Penulis Pemula

 

Mahasiswa memiliki tiga karakter utama, yakni intelektualitas, moral dan ke-oposisi-an.Selama ini, dua karakter terakhir sudah dapat dikatakan tuntas. Timbulnya pergerakan organisasi-organisasi mahasiswa menunjukkan karakter oposisi mahasiswa.Meski kadang terlihat anarkis, tetapi mahasiswa telah mengerti batasan-batasan moral yang harus dijaga.Akan tetapi, karakter pertama, intelektualitas, masih belum dihayati. Implementasi karakter tersebut adalah kemampuan menulis dan berbahasa internasional (http://www.koran-jakarta.com. Anis Baswedan. 28 April 2010).

Kalimat diatas menohok cukup telak dan menyadarkan penulis, sejenak termenung dan malu. Karena pada waktu menjadi mahasiswa adalah aktifis dan selalu menyerukan oposisi dengan gagah berani tapi kok jarang menulis? Jika jiwa kritis dan revolusioner dibarengi dengan intelektual menulis, maka hasilnya pastilah akan sangat dahsyat. Tapi tidak ada kata terlambat.

Penulis percaya orang sekaliber Anis Baswedan tentu perkataannya bukan hanya ditujukan kepada para mahasiswa, namun lebih kepada semua kaum di Indonesia, apapun latar belakangnya. Dan sejarah terus mencatat dengan tinta emas bahwa para pemimpin bangsa, aktifis besar, cendekiawan, budayawan dan tokoh besar lainnya bisa seperti mereka adanya sekarang karena sejak dulu mempunyai kebiasaan menulis.

Kebangkitan Penulis Pemula

Sejak dari TK/Play Group kita sudah mulai diajari membaca dan menulis, tentu dengan tingkat kesulitan yang menyesuaikan. Ketika di bangku kuliah, sebenarnya kita mempunyai waktu yang lebih luas untuk terus meneruskan kebiasaan membaca dan menulis ini, karena jadwal kuliah yang cenderung bisa kita “atur ” sendiri. Seiring perjalanan waktu hobi membaca ini terus berlangsung, cuma hobi yang satunya yaitu menulis mulai pelan-pelan ditinggalkan.

Namun pelan dan pasti budaya menulis kembali merangkak naik. Tentu hal itu tidak lepas dari peran banyak pihak, pemerintah, swasta dan tentu masyarakat sendiri. Gerakan gemar membaca, perpustakaan keliling, sosial media adalah sesuatu yang tidak bisa kita nafikan. Mungkin juga karena masyarakat mulai tidak “betah’ menyaksikan “sinetron sosial politik” yang tiap hari disaksikan, lalu mencari penyaluran dengan menulis. Apapun motivasinya budaya menulis haruslah terus kita dukung, karena menulis adalah next step setelah kita sering “membaca” keadaan, baik untuk menguatkan, mengkritik dan tentunya turut memberi solusi.

Peran Media

Menurut DeWitt C. Reddick, (1976) fungsi utama media massa adalah untuk mengkomunikasikan ke semua manusia lainnya mengenai perilaku, perasaan, dan pemikiran mereka. Dan dalam mewujudkan hal itu, pers tidak akan lepas dengan responsibilitas dari kebenaran informasi (Responsibility), kebebasan insan pers dalam penyajian berita (Freedom of the pers), kebebasan pers dari tekanan-tekanan pihak lainnya (Independence), kelayakan berita terkait dengan kebenaran dan keakuratannya (Sincerity, Truthfulness, Accuracy), aturan main yang disepakati bersama (Fair Play), dan penuh pertimbangan (Decency). Jadi media adalah salah satu saluran para penulis pemula untuk “menitipkan” coretan ide dan gagasannya.

Dan sudah bukan hal yang baru jika kita kerap mendengar betapa sulitnya penulis pemula untuk “menembus” media massa. Padahal tiap tulisan yang sudah dibuat para penulis pemula ini (bagaimanapun hasilnya) dibutuhkan desah panjang, perenungan, pencarian berbagai sumber referensi dan juga keberanian super. Kenapa? karena sebagai penulis pemula yang  masih “buta” kanan dan kiri, teori penulisan yang benar, tata bahasa yang diizinkan dan sekedar menandaskan tuntutan jiwanya yang terus menerus ingin “ngudha rasa”, syukur-syukur bisa turut memberi solusi, mereka sudah memberanikan diri menulis dan mengirim via email ke media massa. Namun yang mahfum terjadi, editor atau redaktur “terlalu” memberi tempat untuk penulis yang sudah terkenal atau mengkoleksi gelar berjejer.

Bila dipandang dari segi keamanan dan efisiensi kerja, memuat tulisan penulis terkenal dan semacamnya pastilah lebih aman, cepat dan tentu prestisius. Tapi hendaknya kita jangan abai terhadap “regenerasi”, karena semua industri, perusahaan, organisasi besar diseluruh dunia kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh seberapa bagusnya proses regenerasinya.  Lalu dari mana regenerasi untuk menjadi penulis besar? Tentu dari penulis pemula.

Sebuah cita-cita utama dan sangat diidamkan semua penulis pemula adalah jika tulisannya berhasil terpampang dalam media lokal apalagi nasional. Para penulis pemula tidak pernah “memaksa” bahwa tulisan mereka harus dimuat. Tentu banyak hal dan kriteria untuk sebuah tulisan bisa lolos dan bertengger di media, termasuk melatih sifat pantang menyerah bila berkali-kali tulisan kita belum layak muat. Namun lebih bijaksana juga bila kita mulai memberi ruang “lebih” untuk para penulis pemula, dan salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan memberi feed back terhadap tulisan yang dikirim.

Dari feed back itulah, kita bisa mengerti dan terus belajar kenapa tulisan kita dimuat atau tidak. Mungkin tidak dimuat karena kurang berimbang, kurang berbobot, kesalahan tata bahasa, tidak sesuai momentum atau headline saat itu dan masih banyak lagi. Dan dari situlah sang penulis pemula terus belajar, terus memperbaiki tulisan dan kesalahannya sehingga kualitas tulisannya makin lama makin benar.

Di samping memberi “pendidikan kepenulisan” terhadap para penulis pemula, juga memberi semangat dan pastilah akan berperan sangat besar terhadap “kelahiran” para calon penulis-penulis besar di bangsa yang besar ini.

(*Penulis : Agung Pramudyanto ST, Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan)

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s