Hening, Bening dan Wening Menuju Pemilu 2014 (di muat di Magelang Ekspres, 6 Maret 2014)

Hening, Bening dan Wening Menuju Pemilu 2014

(di muat di Magelang Ekspres, 6 Maret 2014)

Gambar

 Pada tahun 1970-an, dalam esai pedasnya mengenai watak orang Indonesia, dalam sudut pandang budaya; Mochtar Lubis (alm.) menunjuk salah satunya adalah sikap munafik. Apa artinya? Di depan tampil sopan, bagus, halus atau “semua beres bos”namun dibelakang yang terjadi adalah sebaliknya. Artinya lagi terdapat pecah watak antara kata dan kefasihan khotbah (bicara-red) dengan perilaku dan tindakan. Bahkan bila diekstremkan dalam bacaan saya, terjadi jurang menganga antara kesalehan doa yang khusuk di hari ibadah entah Minggu atau Jum’at dan hari senin sampai sabtu yang diperlakui 180° terbalik dari kekhusukan doa (Mudji Sutrisno, SJ : Ranah-Ranah Kebudayaan (2009)).

Pileg dan Pilpres semakin mendekati, merayap senyap sunyi diatas; namun api dalam sekam dibawah (gras root-red). Bagai kawah gunung berapi, yang indah dari atas (kaum elit-red), namun sebenarnya “menggelegak” lahar panasnya siap dimutahkan keluar.

Pesta demokrasi yang “harusnya” berlangsung 5 tahun sekali ini, ditengah riuh-rendahnya saling klaim dan saling gugat nampaknya menjadikan “pesta besar”ini, betul-betul dihadiri semua pembesar (setidaknya kelihatan sebagai”orang besar”).

Caleg baru vs Incumbent

            Perhelatan besar bangsa ini, nampaknya seperti “madu murni kelas satu”yang membuat siapapun (dari yang benar-benar Pemimpin dan yang “seakan” bisa memimpin) jadi ngiler dan mabuk.

Para new comer dengan “bondho nekad” (tidak mempunyai kapasitas, integritas dan rekam jejak dalam memimpin), asal populer, didukung partai dan mungkin punya “bondho” lebih–dengan alasan menjalankan amanat rakyat (bukan kemauan saya kok?) majulah orang ini menjadi Calon Legislatif.

Maka tidak heran pada saat tampil diacara semacam Mata Najwa atau Debat Caleg, mafhum kita dengar jawaban atau pernyataan yang “menggelikan”. Tapi itulah potret buram wajah caleg kita (tentu tidak semua). Sistem Proporsional Terbuka (suara terbanyak yang menang–tidak berdasar nomer urut) dalam pemilu, harus kita akui menjadi lahan subur transaksi simbiosis mutualisme antara caleg dan partai politik. Yang satu menyediakan “kendaraan”, yang lain “menumpang” kursi (tentu dengan segala prestise, fasilitas dan pundi-pundi diatas kursi). Klop!

Bagaimana dengan incumbent? fenomenanya tidak begitu berbeda.Direktur Advokasi Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK), Ronald Rofiandi mengatakan”Problemnya adalah pencalonan sekarang tidak disertai informasi yang memadai tentang kinerja mereka. Model pencalonan seperti ini rupanya tidak disertai dengan informasi yang memadai tentang parameter parpol dan achievement anggota DPR incumbent, sehingga sangat beralasan terdaftar sebagai caleg 2014-2019. Bahkan kinerja mereka yang selama ini duduk sebagai anggota DPR periode 2009-2014 juga tidak diketahui,” ujarnya dalam jumpa pers “Tahun Politik: Lunasi Atau Ingkar Mandat?” di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat (Berita Satu.Com, 21/2/2013).

Itulah bukti bahwa sekitar 12 bulan yang lalu, “kekhawatiran akut”rakyat (karena tidak bisa mengakses data dan informasi ) sudah jamak terdengar. Diskusi, pertemuan, sosialisasi yang diadakan selama ini, tidak bisa mengobati “kehausan”rakyat yang begitu besar terhadap rekam jejak kinerja para wakilnya di dewan.

Setiap tatap muka dengan rakyat, sangat jarang para incumbent yang “melaporkan pertanggung-jawaban” kepada tuan yang diwakilinya (rakyat-red). Alih-alih melaporkan, mereka justru mengajak konstituennya untuk abai (lupa) dan bernyanyi”yang lalu biarlah berlalu”, tapi besok jangan lupa “pilih aku lagi”. Ironis.

Padahal baik new comer ataupun incumbent, ternyata cepat atau lambat, masyarakat mulai mencium rekam jejak “hitamnya”. Ada yang masalah administrasi pendidikan, etika, moral; sara; integritas; sampai perdata dan pidana. Dan dengan tegar tengkuk–kepala batu, mereka berorasi tentang : demokrasi, anti korupsi, Pancasila, hidup jujur, beretika, menghormati perbedaan, pemilu jujur dan adil.

Ketika rakyat hendak ber-sintesis (laku budaya mengolah), mengambil jeda dan mengambil sikap kritis, dengan cerdas mereka secara masif “memborbardir” ingatan publik dengan iklan media TV (1 hari : bisa 3 kali); radio; media cetak; banner di pohon; mega banner di tiap tikungan jalan (yang membuat was-was para pengguna jalan kalau jatuh) dan tak lupa bantuan-bantuan langsung dan tunai. Dengan harapan rakyat bisa kembali terkena“amnesia”.

Rakyat harus bersikap

Watak orang indonesia yang berbudaya, berbudi luhur, bermartabat dan pemaaf nampaknya dimanfaatkan maksimal oleh para oportunis dan adventoure tersebut. Untuk itu proses konsientisasi (penyadaran-red) wajib terus di gaungkan sampai menembus telinga dan “bersemayam” dalam sanubari setiap rakyat.

Proses reifikasi (pengkerdilan-red) dan pendangkalan pola pikir yang sedang terus dilakukan para caleg /capres“hitam”harus “dimenangkan” dengan kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa ini (Pendidikan Politik dan Kebangsaan para founding father) dan juga menghidupi kembali nilai-nilai Kearifan Lokal (Pendidikan Kebudayaan yang bermartabat).

Di tengah pengapnya udara bangsa ini, yang telah dan terus dicemari oleh “bombardir” janji kosong, sikap munafik (bedanya antara kata dan perbuatan); miskin contoh–mini teladan sehingga terjadi jurang amat mengangga antara nilai cita-cita dan nilai penghayatan nyata; maka marilah kita sejenak hening, bening dan wening.

Hening berarti mengambil “ruang khusus”,mengisolasi diri dari dunia. Bersikap diam, tidak bergerak, pasif secara fisik namun rohnya aktif berdoa kepada Tuhan. Lalu kita (Tubuh, Jiwa dan Roh) menjadi bening (jernih, mengendap) dan terakhir kita bisa wening (welas dan hening) : bersih dari segala kepentingan sesaat dan sesat, baru kemudian menentukan pilihan. Kalaupun masih ada kepentingan hanyalah terpilihnya wakil kita dan pemimpin (caleg dan capres) bangsa ini yang sederhana, benar-benar melayani Tuhan dan rakyat.

Simplex sigillum veri!

              (*) Penulis : Agung Pramudyanto

Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di berita, politik dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s