Purnama Kota Kabut: Mata Langit Yang Tertutup

tawalife

Hari ke-15 adalah hari yang dinanti. Setiap bulannya, setiap tahunnya. Meski kadang yang dinanti tak kunjung menampakkan diri: sibuk bergelut dengan awan-awan putih nan kadang hitam di atas sana, lupa dia ada mata-mata yang menunggu untuk dimanja dengan sinar kemilau kecantikannya.

Hari ke-15 adalah hari yang ditunggu. Sengaja dihitung dari hari pertama bulan berganti. Meski kadang yang dinanti tak kunjung muncul: lupa kalau sudah waktunya dia memperlihatkan pesonanya, atau sengaja menghilang di balik awan-awan putih nan kadang hitam di atas sana karen tersipu. Malu dipandang mata-mata yang menanti dengan sabar, dengan harap cemas.

Hari ke-15 adalah hari ini. Memang tidak setiap bulannya, tapi ada waktu di kala ia menampakkan wujudnya. Bercadar awan tipis, memanggil dengan sinarnya, menarik mata-mata yang terpaku lelah.

Hari ke-15.
Mata langit yang sayup-sayup menahan kantuk, berselimut awan putih nan kadang hitam di atas sana. Menunggu waktu mata-mata sadar akan kehadirannya. Menunggu waktu mata-mata terpaku akan pesonanya…

Lihat pos aslinya 35 kata lagi

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s