Lebaran dan Deru Petasan (di muat di Magelang Ekspres, 7/8/2014)

Lebaran dan Deru Petasan

(di muat di Magelang Ekspres, 7/8/2014)

lebaran dan petasan “Tiga anak sudah menjadi korban petasan selama Ramadhan ini. Dua anak menderita luka di bagian mata, sementara seorang anak usia 7 tahun meninggal dunia,” (detik.com, 7/7/2014).

Lebaran seharusnya menjadi sebuah suasana yang meneduhkan. Betapa tidak? Setelah sebulan penuh bermati raga (juga bertadarus, berzakat) akhirnya tibalah saat kemenangan. Saat dimana momen spiritual dan kultural dialirkan, mengucur, ke segenap penjuru bangsa.

Hal itu mewujud, dan menjelma dalam raga silaturahmi kepada orang tua (atau dituakan), sanak saudara, famili, tetangga dan kenalan. Selain sebagai wadak bermaaf-maafan, juga sarana merekatkan kembali hubungan yang pernah abai atau ter-jarak sementara. Menjadi lebur, ajur-ajer (menyatu kembali) dalam satu ruh dan kehangatan emosional kekeluargaan. Sebuah kepuasan dan kelegaan.

Namun, kembali kesyahduan Idul Fitri kali ini diguncang, dikejutkan dan (lalu) meninggalkan torehan luka hitam kelam; karena insiden tahunan klasik yang bernama : petasan!

Berdasarkan data korban petasan yang ada di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya, diketahui jika jumlah korban petasan tiap tahun berbeda-beda. Pada 2010, jumlah korban petasan hanya 9 orang. Setahun berikutnya bertambah menjadi 21 orang dan turun menjadi 11 orang pada 2012. Namun pada 2013 melonjak lagi hingga mencapai 26 korban. Usia korban pun bervariasi mulai 3 tahun sampai 38 tahun (halopolisi.com, 28/6/2014).

Tidak Ada Asap, Kalau Tidak Ada Api

Membaca dan menyimak banyak fakta di media tentang “korban insiden tahunan” yang diaktor-i oleh petasan, menjadi refleksi nyaring dalam nurani kita. Sebuah pertanyaan polos dan lugu, pastilah terbersit dan mengemuka kepermukaan : “Mengapa kok bisa terjadi?” “Mengapa berulang tiap tahun selama lebaran?”

Pepatah kuno nan arif, “tidak ada asap kalau tidak ada api”–menjadi pijakan awal yang sahih–guna merunut tali merah nan menghampar, yang mungkin ber-ujung kepangkalnya.

Mudah kita jumpai-nya para pedagang petasan, baik di pinggir jalan besar; di pusat keramaian; di bundaran masuk perumahan dan tempat strategis lain; bagi kacamata awam menjadi “prima causa”(baca : penyebab utama) mengapa benda tersebut mudah didapat.

Siapa saja yang “menyukainya,” tanpa ada batasan usia (dari anak kecil-orang tua), membuat benda itu dengan cepat berpindah tangan, tersebar dari pusat hingar bingar kota; hingga ke pelosok sunyi senyap-nya perbukitan dan desa.

Hanya dengan nominal ribuan rupiah, seorang anak kecil (yang masih perlu disuapi ibunya)–sudah gagah menenteng “souvenir kecil” yang bisa membahayakan dirinya sendiri–menyentak bayi yang pulas terlelap dipeluk ibunya; membuat orang tua yang punya gangguan jantung menjadi paranoid, takut memicingkan mata, mengucurkan keringat dingin menunggu subuh. Was-was.

Betapa rasanya, bila yang tersiksa gelisah seperti itu, ternyata keluarga yang menyumet (menyulut) petasan? Bilakah yang menjadi korban adalah keluarga kita?

Keseriusan Kuat

Korban petasan tiap tahun yang (selalu) berulang terjadi, menjadi refleksi yang memantul terang, buram-nya pihak terkait dalam mengawal maruah (kehormatan) bulan penuh berkah.

Penertiban pihak produsen dan penjual (juga pembeli), masih menjadi “gula-gula” dalam seminar dan forum diskusi. Berkelitnya Negara (Polri), dengan tafsir bahwa : “Bila menjual kembang api itu boleh,” masih membuat kita bingung, tercenung, gagal paham.

Secuil logika sederhana rakyat cuma mengerti, bahwa banyak-nya korban bertumbangan selama ini, akibat ledakan petasan bukan kembang api. Memilukan.

Semoga kita masih punya hak, untuk merayakan lebaran tahun depan, dengan lebih takzim; tanpa berwalang hati (gamang); karena percik lirih petasan.

Selamat Lebaran!

 (*) Penulis : Agung Pramudyanto

(Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan)

 

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s