Kearifan Borobudur (di muat Magelang Ekspres, 30 Oktober 2014)

OLYMPUS DIGITAL CAMERABeberapa waktu yang lalu, penulis di undang dalam sebuah diskusi budaya yang cukup menarik, temanya: Sinau Candi! Puluhan orang yang terdiri para aktifis, seniman, budayawan dan pelaku sejarah; saling menyampaikan uneg-unegnya. Dari tentang isu nasional, pelantikan Jokowi, hingga tentang Candi Borobudur–yang bagi benak warga sekitar–walau dekat secara fisik, entah kenapa, makin susah di rengkuh, tak terjangkau. Mereka gundah gulana.

Ketika dibersitkan satu kata yaitu: Borobudur, beragam makna pastilah berkelindan di sana. Orang luar negeri, langsung menautkan dengan Indonesia. Di isi kepala rakyat, juga menyeruak sebuah candi, tempat wisata, bangunan bersejarah, situs kebanggaan, bahkan ada pula yang berkata: batu yang ditumpuk!

Tersungkap dari apapun jawaban-nya (tentu berdiri diatas banyak fundamen)–bagi masyarakat awam–Borobudur, tidaklah terlalu tersisih di batas angan. Setidaknya, 800-an Masehi silam, kata itu (baca: Borobudur), pernah membekam erat, di palung hati dan relung jiwa manusia Jawa.

Kontroversi

Hampir serupa dengan ribuan situs bersejarah di muka bumi ini, selalu ada “sisi lain” yang mencoba melawan mainstream (arus utama), atau sekurang-kurangnya pijakan pendapat yang berbeda, dari yang (selama ini) diyakini publik.

Sebut saja, asal muasal Borobudur yang dianggap maha karya agung (masterpiece) Budhis sedunia. Beberapa pihak menyangsikan–karena jika benar–tentulah dibangun di India (negara asal).

Dengan dibuatnya di bentala Jawa, para sesepuh meyakini, hal tersebut merupakan faal nyata manusia Jawa; demi menaikkan hormat terhadap budaya lelaku spiritual, yang dilampahi seorang Siddarta Gautama, hingga mencengkau titik adnan (nirwana). Ternyata sebangun dengan makna “manusia Jawa” yang (bukan hanya) dikandung maksud “suku Jawa,” namun lebih kepada “jiwa kang kajawi” atau jiwa yang tercerahkan.

Penemuan sang candi nan elok, yang ditulis sejarah oleh: Sir Thomas Stamford Raffles (1814), kembali di gugat. Usaha-usaha awal yang dilakukan untuk mencari tapak tilas Borobudur, di inisiasi para pribumi. Namun, karena peta Indonesia (juga pulau Jawa), mengendap rapi dan tenteram di Belanda, maka sang Gubernur Jenderal Inggris atas pulau Jawa (baca: Thomas Raffles), muncul benderang sebagai “penemu.” Semua masih misteri dan diskursus.

Berburu Rente

Entah bagaimana mereka-reka babad-nya, sekonyong-konyong; candi maha agung yang berjenema: Borobudur–yang dulu menyatu dengan denyut nadi pribumi sekitar–menjelma ke muka menjadi sosok menara gading, yang asing bagi sentuhan telapak tangan jelata.

Memang, sekitar 1975 hingga 1982, terjadi proyek pemugaran dan didukung UNESCO. Tentu sebagai bangsa yang berbudaya, topi kita angkat tinggi, malahan (kemudian) terdaftar selaku situs warisan dunia. Betapa rasanya?

Yang menjadi keprihatinan kemudian adalah, dengan klaim tadi (baca: situs warisan dunia), segala pengelolaan dan kebijakan, seakan di takeover, banyak ditentukan dengan sistem top down.

Misalnya, karcis masuk yang dikenakan merata tiap pengunjung (pribumi sekitar dan luar: sama), sekali lagi, menampilkan bentuk privatisasi yang abai terhadap kearifan lokal. Petitih cakap: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung; mulai sirna diterjang panasnya coup capital, yang berlomba mengeruk rente.

Pembangunan Borobudur yang membutuhkan ketekunan ratusan tahun, tentulah berkat jasa ribuan tenaga pekerja–diyakini–pastilah diambil dari masyarakat sekitar. Tragis jika kini, anak cucu mereka (baca: para pekerja)–yang mungkin ratusan mati karena tertimpa batu–harus “membayar mahal” dan disamakan statusnya, dengan para pelancong yang mungkin cuma tahu situs dahsyat ini, dari buku atau promosi online.

Kembali Ke Budaya

Setelah sekitar 10 tahun, rakyat disuguhi retak dan berlawanan-nya, antara perkataan dan perbuatan para pemimpin, 20 Oktober 2014 kemarin, pelantikan Jokowi sebagai presiden RI ke-7, sungguh melegakan!

Terlepas dari masih adanya pro-kontra, Jokowi telah terbukti, dipilih lebih dari separuh rakyat nusantara. Jargon andalan: Nawacita dan Trisakti Bung Karno, diharapkan seperti nubuat yang ditarik dari langit, (lalu) dibumikan, guna menjawab tantangan bangsa dan sedu-sedan para “marhaen” di pelosok negeri.

Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan (Nawacita ke-3)–berkaitan dengan Candi Borobudur–sangat baik, bila sungguh menjadikan desa-desa sekitar (juga rakyat jelata), menjadi lebih sejahtera.

Menilik rancangan arsitektur yang rumit nan detail, kembali menguatkan imaji bahwa monumen bersejarah tersebut, dari mulanya, memang dihunjukkan sebagai tempat peribadatan spiritual, bersemedi, puja dan puji. Maka, berani “meneropong kembali” spirit ritus sekelas Borobudur, yang sampai detik ini, membuat mata dunia berdecak, tiap kepala menggeleng, adalah sebuah keniscayaan.

Berkepribadian dalam kebudayaan–menjadi sebuah keluangan emas–selaku gapura depan, mengembalikan ruh Candi Borobudur kembali ke-kithah-nya. Bukan hanya kasat mata sebagai bangunan komersial menumpuk pundi keluar, namun jauh, jauh dan jauh dari itu. Menjadi situs peradaban, dimana setiap adab dan budaya direkam, terpahat indah seperti di tiap relief dinding candi.

Dengan “mendengarkan” suara pribumi sekitar, untuk diajak bersama mengelola warisan adiluhung, secara lebih berbudaya; serupa lelaku menapaki punden berundak, lebih tinggi dan makin meninggi, dari Kamadhatu, menuju Rupadhatu, dan lalu Arupadhatu.

 

 

(*) Penulis : Agung Pramudyanto

Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s