Pendiri Raih Gelar Pahlawan, PBNU Apresiasi Pemerintah

nu+pahlawanVIVAnews – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sangat mengapresiasi keputusan pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo, yang telah memberikan anugerah kepada pendiri Jam’iyah NU KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu pahlawan nasional.

“Kami tentu sangat berterima kasih kepada negara yang telah memenuhi harapan warga Nahdliyin untuk menjadikan Kiai Abdul Wahab Hasbullah sebagai pahlawan nasional,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Masduki Baidlawi, kepada VIVAnews, Selasa 11 November 2014.

Pemberian anugerah kepada KH Wahab ini menambah deretan nama-nama tokoh NU sebagai pahlawan nasional. Sebab sebelumnya, dua tokoh pendiri NU juga sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, yaitu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Kiai Wahab tergolong ulama yang berpandangan modern, pelopor kebebasan berpikir di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdliyin. Dalam memulai dakwahnya, Kiai Wahab dengan sengaja mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

KH Abdul Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdliyin. KH Abdul Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia.

Menurut Cak Duki, sapaan Masduki, Kiai Wahab merupakan salah seorang pendiri NU bahkan sebagai arsitek berdirinya NU sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas). “Kiai Wahab adalah tangan kanan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari,” terangnya.

Secara struktur, papar Cak Duki, Kiai Hasyim sebagai Rois Akbar NU. Namun, arsitek NU sebenarnya adalah Kiai Wahab, bahkan Kiai Wahab pula yang melakukan dan membentuk jaringan-jaringan NU keluar. “Beliau yang membangun hubungan NU dengan para tokoh di luar NU, seperti Muhammadiyah, Masyumi, dan bahkan dengan tokoh non-muslim,” katanya.

Kiai Wahab juga termasuk ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan, terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Karena itu, semasa hidupnya Kiai Wahab sempat membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

“Di situ (Tashwirul Afkar) dia melakukan kegiatan diskusi dan tukar pemikiran dengan para tokoh lintas kelompok,” ujar Cak Duki.

Di kancah politik, Kiai Wahab dikenal memiliki peran penting keluarnya NU dari Partai Masyumi dan menjadi salah satu peserta pemilu pada 1952. “Partai NU saat itu berhasil tembus tiga besar dengan memperoleh 18 persen suara nasional, mengalahkan PKI yang berada di urutan keempat,” terangnya.

Sejak saat itu pula, NU akhirnya “naik kelas” dalam kancah politik nasional. Perolehan tiga besar suara nasional itu juga membuat mobilitas vertikal NU meningkat. (art)

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di berita, politik dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s