Menggagas Media Kampung (di muat Magelang Ekspres, 4 Desember 2014)

media kampungRapat RT malam itu berlangsung cukup seru! Beberapa warga nampak antusias menggelontorkan uneg-uneg dan berbagi solusi. Dari masalah air PDAM yang sering ngadat, rencana membangun gedung pertemuan yang 2 tahun molor, peng-aspal-an jalan depan rumah, tanaman organik, normalisasi talud; hingga proyek “cukil dan ganti” paving di trotoar ujung jalan; yang membuat warga terperangah, terkejut, karena merasa belum pernah diajak rembugan.

RT atau jamak diberi gelar Rukun Tetangga, menjadi ujung tombak terdalam, pada sebuah tata surya berjenema : negara. Berangkat dari situlah–sebenarnya– awal muasal seorang (atau sebuah keluarga) mulai bersentuhan sosial dengan “sing liyan” (baca : individu/keluarga lain).

Sangat bersyukur, seharusnya deras dibatinkan, jika lingkungan kita (kampung/perumahan) adalah plural. Ke-berbeda-an bukan hanya tentang : suku, agama, ras dan antar golongan; walakin juga seputar profesi, sifat, karakter, latar silam keluarga. Ya, sangat elok, bila mau menerus , merayakan, menyiangi dan merawat miniatur Negara-bangsa (baca : RT) tersebut.

Kekuatan Kampung

 Kampung secara umum berarti, sebuah kumpulan komunitas terdiri dari berbagai masyarakat beragam etnis atau etnis tertentu, yang berdiam dalam satu wilayah dan hidup secara berkelompok dengan pola hidup sederhana, memiliki aturan yang arif dan bijak dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, (Smite Palu; 2012).

Ketika dulu, seseorang dijuluki bersikap “kampungan,” maka imaji yang bertengger di benak adalah sikap orang udik, yang “ndeso,” plonga-plongo, berwajah tanpa dosa, dan gagap dengan peradaban modern. Laksana ditimpa langit, jika (pada masa itu) kita di cap demikian. Yang menempeleng kebengongan, lalu melahirkan Ironi–menjelang pemilu–kata “kampung” (ternyata) menjadi idola visi-misi para calon!

Bali kampung, mbangun kampung,”atau “Kita akan memulai reformasi ini dari kampung,” atau “saya akan blusukan dari kampung ke kampung,” adalah jargon-jargon yang ramah berdesingan di indera pendengar rakyat. Entah kenapa? Kata “kampung” menjadi komoditas kata, yang mampu menyihir, membuat rakyat menoleh, berkerubung, dan (semoga) mau memilih-nya nanti ketika coblosan. Tetapi, jangan lalai, kampung adalah kumpulan dari beberapa RT.

Sempitnya Media

 Tuntutan zaman dan era modernisasi, agaknya mendesak munculnya kesibukan warga, yang tensinya makin merambat naik. Dalam sebuah kampung/perumahan, menjumpai “kesibukan pagi” (baca : warga beraktifitas, ke kantor, bekerja, mengantar anak, dan sebagainya), yang kemudian lengang, dan akan kembali riuh ketika sore atau menjelang malam, bukanlah hal ganjil.

Kegiatan “ronda malam,” (yang dulu) selain untuk menjaga keamanan lingkungan, juga sebagai media warga untuk lebih srawung, lebih karib dengan tetangga, sekedar guyon; kini mulai tergerus makna-nya, hanya sebagai ajang muter mengambil jimpitan, lantas kembali ke-kediaman masing-masing. Keadaaan kembali senyap.

Ya, media untuk saling bertemu, berdiskusi, bergurau, sekedar glenak-glenik, sontak “hanya” ketika ada rapat RT. Pertemuan yang diagendakan sebulan sekali tersebut –biasanya tanggal 10–nampaknya menjelma rentang kelewat lama, untuk menjadi wadah penampung segala kejadian, dan (bila ada) masalah warga yang berlanjur seputaran purnama.

Usulan

 Sebagai pilar ke-empat demokrasi, pers atau media, menjadi sebuah kebutuhan mutlak yang tak terbantahkan. Selain sebagai sarana informasi, pendidikan kepada publik, hiburan; media juga mafhum memerankan kontrol sosial rakyat. Melalui media, warga yang mempunyai uneg-uneg, kritik, saran, mengenai segala hal–juga kebijakan publik–bisa tersampaikan.

Selain membuka kembali “ruang publik,” misal : ruang terbuka hijau, diskusi formal dan informal, taman baca masyarakat (hingga tingkat RT); menjadi baik juga, bila mulai dirintis media (fisik).

Mari, lenyapkan imaji dalam benak, bahwa media fisik adalah setumpuk kertas, tabloid, majalah atau bahkan Koran yang maha tebal; bukan, bukan itu sebagai awal. Media ini sangat jauh dari kesan rumit dan susah, bisa di-inisisasi dari “hanya” 2 lembar kertas (A4/folio). Isinya bisa seputar info di tempat tinggal kita. Umpama : mengenal warga satu RT, jumlah jimpitan, info posyandu, arisan terdekat, sampai cara menangani wabah cikhungunya. Bisa juga, untuk promosi bila ada warga yang jual-beli barang/jasa, termasuk sosialisasi tentang program pemerintah, yang kadang (infonya) tidak sampai secara utuh ke warga.

Di print (di cetak) dan diedarkan warga, seminggu sekali, menjadi hal yang bagus, sehingga bila ada masalah segera terselesaikan, tidak harus suntuk menunggu ketika rapat RT. Warga yang mempunyai kerelaan dan juga kaum muda (karang taruna), bisa menjadi pelopor dan penggerak.

Media lokal (koran) yang lebih profesional, sangat indah juga, bila “mau berbagi ilmu” tentang jurnalisme warga. Menyediakan ruang (tempat) di kantornya, untuk bertemu, berdiskusi; antara pemerintah, warga, perguruan tinggi, dan instansi yang berkepentingan, “urun rembug” guna kemajuan sebuah kota/kabupaten–seperti sudah dilakukan Koran/media besar lain–adalah sebuah keniscayaan mulia. Sungguh, sangat dirindukan warga.

Membangkitkan (kembali) media warga kampung, ditingkat paling kecil, yaitu : RT; baik berwujud ruang bertemu serta diskusi, juga berwujud kertas (buletin/tabloid sederhana); pastilah sangat membantu untuk mengawal demokrasi di negara-bangsa, yang masih tertatih dan tertitah ini. Sudah saatnya warga aktif, terjun, bergerak, berkeringat; mencari terobosan baru terus-menerus.

 

(*) Penulis : Agung Pramudyanto

Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan

 

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s