Cendekiawan di Simpang Jalan (dimuat Magelang Ekspres, 19 Desember 2014)

simpang jalan “Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan. Seorang cendekiawan adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat,” (Sharif Shaary, dramawan Malaysia).

Walau tidak semua–cendekiawan–condong lebih dikenal mafhum, ditahbiskan dari garba universitas. Lepas dari apapun almamaternya, seseorang yang bisa mencicipi bangku kuliah, “dianggap” kelas menengah, baik secara finansial maupun intelektual. Maka, ketika seseorang menjadi mahasisiwa, predikat Intelektual, menempel erat, bertengger dibahunya. Dikandung maksud, mahasiswa bersinonim dengan intelektual. Selanjutnya, apakah mahasiswa (intelektual), juga otomatis menjadi cendekiawan? Apa pasti begitu?

Saya sendiri tidak tahu. Setahu saya, yang pasti membuat saya angkat topi adalah, jika ada mahasiswa, ditengah deru pacu kuliah, masih punya “hati,”menjadi aktivis kampus–apalagi jika berani menyuarakan ke-idealisannya, dan merespon segala rubungan masalah bangsa yang tiada henti berseliweran–melalui aksi-aksinya (demo, teatrikal, dan lain-nya), juga bisa pikiran (misal : tulisan di media); menurut saya, dia sudah naik seranting lebih tinggi, menjadi seorang cendekiawan.

Setelah Wisuda Kemana?

Dengan modal idealis, intelektual, dan berani menyatakan “kebenaran kritis,” ditambah pengalaman melakukan berbagai macam aksi, membina hubungan dengan semua pihak; sebenarnya, seorang cendekiawan (yang masih berstatus mahasiswa) punya kans sangat kuat, untuk berkiprah di jenjang selanjutnya, yaitu : dunia nyata!

Karier perjalanan ke-cendekiawan-an mereka, sesungguh-sungguhnya, dimulai saat di Wisuda. Tatkala itu, puluhan pilihan menghampiri; antara bekerja secara profesional sesuai gelar study, atau menyambung mengikuti panggilan jiwa, menjadi seorang cendekiawan. Nah, pada saat inilah, jiwa aktivis kembali di uji. Kecuali gelar study sebangun dengan panggilan jiwa, menyambar pilihan pertama (baca : bekerja secara profesional), adalah lebih “aman.” Setidaknya, jauh dari bergesekan langsung, dengan kepentingan, politik dan kekuasaan.

Namun, bila jiwa “pemberontak” kita, terus menggedor-gedor, memukul-mukul, menghantam-hantam relung batin minta disalurkan; (sekali lagi) menurut hemat saya, teruskan perjuangan : menjadi cendekiawan, walau mungkin tercerabut dari rasa “aman.”

Diluar atau Didalam

 “Faktor lain yang membuat para cendekiawan (kampus) gamang, masuk ke politik dan birokrasi, adalah kekecewaan mereka melihat para aktivis kampus, yang semula diyakini sebagai orang yang : berintegritas, bersih; ternyata akhirnya jebol, terperangkap korupsi dan harus berurusan dengan KPK,”(Kompas, 14 Juni 2014).

Setelah keukeuh memilih tetap menjadi cendekiawan, agaknya perkara belum usai. Ya,                                                                            kembali “sang aktivis” di bentangkan dua lajur, disimpang jalan, ke kanan atau ke kiri. Taruh saja kekanan, yang artinya terjun masuk kedalam jalur kepartaian/birokrasi pemerintah. Sedangkan kekiri, adalah menjadi pengamat dan pengkritik (tentu dengan tawaran solusi), namun tetap diluar lingkaran; atau menjelma menjadi oposisi murni. Memang, pilihan yang kedua-duanya tidak mudah.

Muara ujung para cendekiawan kampus, dari sejarah panjang yang tergores di negara-bangsa ini, seharusnya (dan ideal-nya) adalah : berada di dalam jalur (baca : kepartaian/birokrasi)! Menengok sebentar, para tokoh bangsa senior, sesepuh, begawan, hampir semua lini ilmu; ternyata pada masa kuliah–adalah para aktivis kampus yang suntuk dengan organisasi–dan berani tampil melantangkan koar ke-kritis-an.

Tak terbilang lagi, berapa puluh dan ratus tekanan/intimidasi, yang menerpa dan menghempas mereka. Walakin, diujung suasana terpepet, terdesak dan paceklik tersebut; justru “jiwa kepemimpinan” dan “ketabahan batin” semakin diasah. Segala daya upaya, untuk tetap menyerukan kritik dengan gagah berani, dan tetap menjaga “moral”agar tidak cemar; perlahan namun pasti, memunculkan kekuatan maha dahsyat. Tenaga itu, dipupuk dan ditumpuk terus-menerus, yang akhirnya menggunung dan menyembul keatas, keluar menjadi pribadi yang sakti namun tetap santun. Tidak heran, jika suatu hari, mereka tampil menjadi pemimpin bangsa yang dong-deng (baca : pilih tanding), itu hanyalah masalah waktu.

Roda berputar, kompas sejarah bergeser. Kebebasan pers yang makin lapang, membuat publik begitu mudah disuguhi berita tentang kader partai/birokrasi pemerintah–yang dulunya cendekiawan kampus–berurusan dengan hukum. Sungguh risau.

Bagaimana dengan pilihan yang satu, menjadi oposisi murni? Opsi ini, masih sangat mulia. Mengkritik dari luar dengan menyodorkan berbagai “jalan lain,”adalah kebutuhan mutlak dalam alam demokrasi. Tetapi, harus diakui dengan kebeningan nurani dan kebesaran batin–sampai saat ini–kritik runcing dilampiri data yang sahih-pun, tak banyak membuat beda. Segala hal yang “ditabukan” ketika “bersumpah janji jabatan,” tetap dilakukan. Jalan terus, dan lancar saja.

Kembali ke Panggilan

 Benih harapan harus terus ditebar dan ditabur, walau situasi sangat muskil. Pemerintahan baru, dengan segala kelengkapan-nya, kendati baru berumur sepelemparan batu–diakui atau tidak–telah mampu menaikkan tensi “harapan hidup” negara-bangsa ini, yang sekian lama melorot, nyaris koma.

Bagi para cendekiawan, yang terpanggil diluar lingkaran, tetaplah aktif dan menggerakkan rakyat. Diskusi formal dan informal, yang melibatkan semua pemangku kepentingan, adalah sebuah awal yang sangat dibutuhkan publik. Sehingga segala keluh-kesah, glenak-glenik, nguda rasa; dari sang pemilik kedaulatan tertinggi (baca : rakyat), bisa tersampaikan kepada “wakilnya” (baca : partai/birokrasi pemerintah). Bantu mereka dengan pemikiran yang mencerahkan, dampingi. Tidak kalah penting, jangan jemu menyuarakan kritik yang membangun.

Dan, bagi yang terpanggil menjeburkan diri ke partai/birokrasi pemerintah; selalu-lah kembali kepada “kasih yang mula-mula.” Adalah : niat suci awal kita, tatkala menjadi cendekiawan kampus, murni untuk kepentingan rakyat, negara-bangsa. Ditengah tsunami pragmatis dan hedonis, yang meluluh-lantakkan tiap sendi gedung besar bernama : Indonesia Raya ini,   sangat tidak mudah, benar.

Tapi, mau bagaimana lagi? Itulah tantangan besar-nya. Cendekiawan harus lekas menentukan sikap, ke kanan atau ke kiri, menjadi hebatlah di situ. Rakyat terus memasang mata!

 

 (*) Penulis : Agung Pramudyanto

Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan

 

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s