Misa Kudus dan Alat Komunikasi (di muat Praba, Desember II 2014)

hp di misaPada suatu kali, penulis mengikuti Misa Kudus di sebuah gereja. Karena umat sangat banyak, dan penulis datangnya kurang pagi, maka terpaksa penulis naik ke tingkat atas (balkon). Dari atas balkon, otomatis bisa melihat banyak hal yang terjadi di bawah. Dan dari awal misa hingga akhir, ternyata telah terjadi sebuah fenomena baru yang mengejutkan yaitu banyak umat yang terdiri dari bapak ibu, dewasa dan remaja yang selama mengikuti misa kudus di gereja namun tetap asyik “bermain” dengan alat komunikasinya (hp, blackberry, tablet). Penulis merenung sejenak, terdiam dan mengelus dada. Lalu gejala apa yang sebenarnya sedang terjadi di gereja kita?

Misa Kudus adalah sebuah ungkapan iman, dimana kita menyembah, mengucap syukur atas segala berkat Tuhan yang telah kita terima minimal selama minggu kemarin, saling mendoakan sesama saudara seiman, memperbaharui janji kita, mengenang kembali peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, menerima hosti, yang tentu di pimpin oleh Romo/Pastor melalui sebuah upacara seremonial yang khusuk. Bahkan pada zaman dahulu, dalam mempersiapkan misa kudus kita sebagai umat awam di haruskan tidak makan apapun minimal 30 menit sebelumya, artinya betapa perayaan misa/ekaristi ini bukanlah peristiwa biasa. Melainkan betul-betul sebuah “Upacara Agung” yang di nantikan seluruh umat.

Dinamisasi perkembangan zaman terus bergulir. Akulturasi budaya kita dan budaya asing dengan segenap nilai-nilai yang mengikutinya nampaknya menjadi sebuah keniscayaan. Persaingan dalam bisnis alat komunikasi nampaknya kian sengit. Hal itu menyebabkan gadget yang dulunya cuma di miliki oleh segelintir orang (dan tentunya orang yang berduit), kini di produksi secara lebih masal serta di jual dengan murah. Sehingga, bukanlah pemandangan baru, jika kita melihat anak SD sudah menenteng gadget terbaru dan sangat fasih menggunakanya. Nilai-nilai “baru” pun kini mulai di adopsi, diantaranya budaya instant, di mana kita cenderung abai terhadap proses namun ingin segera mendapat hasil dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Orang di buat sedemikian rupa sangat lengket terhadap gadget, tidak bisa berpisah sebentar saja dari nya bahkan tidurpun hp kita letakan dekat kepala, namun Alkitab malah jarang dibaca. Manusia juga mulai tidak sabaran lagi terhadap segala sesuatu yang lama dan terkesan formal, saat antrian, macet di jalan, dan juga contohnya : misa kudus tadi!

Lepas dari semua hal diatas, penulis juga pernah mengikuti misa di paroki lain. Dimana di pintu masuk gereja, sudah ada warning dari kertas putih yang bergambar hp di silang, dan ada tulisan tegas di bawahnya “ hp dan alat komunikasi wajib dimatikan”. Dan ternyata Perayaan Ekaristi di paroki tersebut cenderung lebih khidmat, khusuk karena tidak ada dering hp dan gerakan jari jemari yang sibuk menari diatas keypad hp/tablet.

Beberapa hal nampaknya bisa segera kita lakukan, supaya kesakralan perayaan Ekaristi –yang memang sebuah peristiwa misteri yang agung ini–bisa kembali kita rasakan dan hayati dengan lebih indah. Romo sebagai Ketua Dewan Paroki, nampaknya memegang posisi sangat strategis dalam setiap keputusan berkaitan apapun yang terjadi didalam dan luar gereja. Sabda Pandhita Ratu dari Romo nampaknya masih sangat ampuh untuk mengambil sikap tegas berkaitan dengan hal ini. Namun, yang perlu di ingat adalah tidak semua hal bisa di selesaikan seorang Romo baik sebagai seorang pribadi maupun lembaga gereja. Selalu dan selalu terbuka ruang yang luas untuk optimalisasi peran kaum awam. Perwakilan umat yang terstruktur ke dalam sebuah badan bernama Dewan Paroki nampaknya juga berperan sangat signifikan. Dewan paroki yang diantaranya terdiri dari ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua komisi, ketua paguyuban, tokoh masyarakat, omk, ibu paroki dan lain – lain nampaknya sudah bisa mewakili keberagaman umat. Diharapkan segera membuat regulasi yang jelas dan tegas tanpa terlalu ewuh pakewuh, diantaranya membuat tanda gambar/tulisan yang isinya bahwa pada saat misa kudus maka segala alat komunikasi wajib di non aktifkan. Sebagai umat, budaya kesadaran diri, kepekaan/awareness, tepa salira, ungggah unggah, sopan santun, pan papan terutama saat misa kudus nampaknya harus terus dipupuk dan di munculkan kembali.

Penulis menyadari tidak ada sesuatu apapun yang berharga yang di peroleh dengan cara instant. Semuanya perlu waktu, pertentangan – pertentangan kecil maupun besar pasti terjadi dengan kebenaran argumen masing-masing, yang justru makin memperkaya dan menambah kualitas solusi. Habitus yang baru wajib terus dibangun, wajib terus diserukan dengan tak henti-henti dan tak kenal lelah. Sungguh pemandangan yang sangat elok bila misa kudus, perayaan yang sangat dinanti-nantikan umat, bisa berjalan kembali dengan khidmat, khusuk namun tetap menggembirakan hati umat dan yang pasti tidak terganggu dering alat komunikasi.

 

(*) Penulis : Agung Pramudyanto

Pengamat dan Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s