Suro Diro Jayaningrat (dimuat Magelang Ekspres, 13 Februari 2015)

suro 2Pada tahun 1981, publik sempat terhentak, dihebohkan dengan sebuah karya masterpiece, tentang dunia batin seorang wanita Jawa, yang berjenema: Pengakuan Pariyem. Akhir-akhir ini, publik kembali disambar, tersentak kaget, melongo, hingga kepala makin puyeng; bukan dengan sebuah maha karya sastra besutan Linus Suryadi AG lagi, namun sebuah drama di jagad perpolitikan bangsa ini, yang kita sebut saja : Pengakuan Hasto!

Berangkat dari pengajuan calon tunggal Kapolri oleh Jokowi, yang menerobos, menerabas, bablas, zonder melewati pos KPK dan PPATK; diketahui sahih sebagai awal “tarian pembuka,” carut-marut tragedi yang sampai detik ini, masih ber-seri, belum berujung. Adu jaya kawijayan (tenaga, kesaktian), antara KPK dan Polri-pun makin seru. Saling melepas panah “tersangka” ke bahu masing-masing, penangkapan dan pemborgolan yang heroik, membuat hati rakyat was-was, ketar-ketir. Belum selesai nafas ini dibuat terengah-engah, kembali, publik dibuat terkejut, mata berkedip-kedip tak percaya; seorang Hasto, membuat kesaksian yang (sekali lagi) menghantam Abraham Samad. Rakyat cuma bisa gedek-gedek, kepala makin berat. Benaknya makin ruwet.

Jokowi, yang digadang-gadang sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, mendengar suara rakyat; terkesan mengulur-ulur waktu, bertele-tele, mendekati lamban, lambat. Apakah benar demikian?

Kisah Nyai Pamekas

 Dalam “Serat Witaradya” ditulis R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873)–seorang pujangga besar Kasunanan Surakarta–ada sebuah cerita yang melegenda. Tersebutlah Raden Citrasoma (Putra Mahkota Prabu Aji Pamasa, Raja Kerajaan Witaradya), yang beranjak dewasa, kasmaran dan gandrung, dengan istri bawahannya (Tumenggung Suralathi), yang bernama : Nyai Pamekas.

Perempuan ini memang istimewa, dianugerahi kecantikan luar biasa, baik wadak (fisik) maupun batin-nya. Siapapun ketika itu, bila memandangnya, akan kesengsem (jatuh cinta). Karena sudah bersuami, sang pangeran tidak berani terang-terangan, segera memutar otak, mengatur siasat.

Suatu hari, suami Nyai Pamekas diutus keluar kerajaan, ya, kesempatan tiba. Segera sang pangeran menghampiri “pujaan hatinya,” dan menyatakan cinta yang berkobar-kobar; bahkan lebih dari itu, hendak melampiaskan syahwat tidak senonoh! Nyai Pamekas, sebagai seorang istri yang setia, dan rajin nggula-wentah (merawat dan meruwat) batin, segera tanggap ing sasmita, tahu diri. Bila melawan dengan kekerasan, maka ia akan berhadapan dengan kekuasaan dan hukum (putra mahkota), juga bisa membuat sang pangeran kewirangan (malu berat); bila dituruti, maka ia adalah istri yang mengkhianati sang suami.

Akhirnya, dengan “tekad dan niat yang benar,” namun tetap memakai “bahasa dan tutur kata yang lembut,” Nyai Pamekas, berhasil: menyentak, membuyarkan, memurnikan kesadaran sang pangeran; dari rubungan nafsu sesat sesaat.

Wong Cilik

Dari seorang anak desa, yang tinggal di bantaran kali, hidup yang serba susah dan kecingkrangan (kekurangan), sering digusur kesana-sini; bagi Jokowi, bukanlah suatu “dunia yang lain.” Aroma keringat orang miskin, kulit tangan orang desa, kekhawatiran, kecemasan, suasana kebatinan yang dihirup; masuk, menyatu kesemua pori-pori dan pembuluh darahnya—saya rasa—tidak mudah undur, urung, dan terbang, melesat keluar dari jiwa ringkih-nya.

Dalam kosmologi orang Jawa, dikenal derajad dan pangkat. Bila derajad-nya kuat (kapasitas, daya pikir, keilmuan, kesaktian), maka pangkat (jabatan, level hidup) akan mengikuti. Menjadi Walikota Solo, tentu berbeda derajad dan pangkatnya dengan Gubernur DKI, apalagi Presiden RI; bukan perkara mudah, sungguh, tidak gampang.

Menjadi orang paling wahid seantero negeri, menjadi Panglima Tertinggi Darat, Laut dan Udara; dimana tiap kata yang dituturkan bisa membuat nasib jutaan rakyat jadi abang atau ijo; tentu tidak boleh silap mata, tergopoh-gopoh, ceroboh. Disamping warisan masalah presiden sebelumnya yang bertumpuk, nyaris karatan; sangat “tidak adil” bila kita ingin semua beres dalam sekejap—sak dek sak nyet—apalagi diukur “hanya” dari pencapaian seratus hari. Bagai judul film yang pernah ngetop, tahun 1987, sutradara Dedi Setiadi : Vonis Kepagian!

Menjamah Hati

 Perang tanding antara KPK dan Polri, tidaklah sesederhana, tidaklah seremeh-temeh, tidaklah segampang penyelesaiannya; seperti yang dikidungkan para pengamat politik partikelir. Kisah itu bukan seperti roman picisan, yang akan tamat, hanya karena sang presiden menggunakan fatwa atau menjatuhkan perppu. Saya berpendapat, tidak seperti itu. Bila memang “seperti itu,” bukankah presiden sebelumnya juga pernah mengalami kisah yang sama? Dan, bukankah juga sudah mengeluarkan sabda pandhita ratu, tan kena wola-wali? Tapi, mengapa kisah yang tidak menarik hati ini, berulang lagi?

Kisah ini, muskil berdiri sendiri. Ada banyak kisah pembuka, kisah yang menyertai, kisah yang sekedar numpang lewat, juga kisah sebenarnya yang masih gulita dan pasti ber-seri; entah akan sampai seri berapa, dahi saya mengkerut. Bersemuka, bertabrakan, dan saling kait-mengkait; berlaksa tujuan dan kepentingan yang makin carut marut, menyuguhkan sebuah gambar buram, siapa yang memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan, makin samar.

Saya percaya, sebagai orang jawa, yang karib dengan filosofi dan olah batin; Jokowi akan “berbeda” dalam menyelesaikan “akar tiap masalah,” dan tidak hanya “memotong dan memperban permukaan,” seperti polah para pendahulunya. Dijawilnya Tim 9, “laku nyepi” dengan “mengembara sesaat” ke negeri tetangga—saya yakin—adalah sarana menjauhkan diri dari “keramaian dan desakan publik,” yang sangat bernafsu merong-rongnya.

Kini, sekembali dari peziarahan batin-nya; rakyat mendamba, sang Raja segera memperagakan “ilmu barunya” yang pasti lebih ngedap-edapi. Seperti salah satu bait “Pupuh Kinanthi” yang mengisahkan Nyai Pamekas, bahwa sekuat-kuatnya gelojoh syahwat angkara murka, pasti bisa rebah, lumer, dan bertekuk lutut; dengan kasih, kelembutan dan kesabaran. Lebur dening pangastuti.

 

 (*) Penulis : Agung Pramudyanto

Esais dan Pendiri Pamulang

(Paguyuban Pembaca dan Penulis Magelang)

Iklan

Tentang agungpramudyanto

Penulis sosial, seni, budaya
Pos ini dipublikasikan di menulis dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Suro Diro Jayaningrat (dimuat Magelang Ekspres, 13 Februari 2015)

  1. senjadikotakecil berkata:

    salam kenal kak, ajari nulis dong hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s