Matinya Keampuhan Sastra (dimuat Magelang Ekspres, 6 Februari 2015)

sastra 6Menarik! Jika kita jeli, maka pada awal tahun 2015, tepatnya bulan Januari, di koran Kompas (tanggal 5 Januari dan 9 Januari), telah terjadi “perang tanding sastra” yang begitu memukau. Diawali seorang Radhar Panca Dahana (judul : Matematika dan Defisiensi Pendidikan), dan 4 hari kemudian, langsung di jawab L Wilardjo (Einstein, Matematika, dan Pendidikan).

Ya, 2 orang pesohor, yang kesaktian dan kedigdayaan tulisan-nya, sangat kondang. Menurut pembacaan saya, ternyata, mereka berdua, berbeda pendapat tentang “dunia matematika.” Bagaiman seorang “professor budaya” (Radhar) dan professor fisika (Wilardjo), memandang sebuah objek yang sama (matematika), dari sudut yang berlainan. Dan yang perlu dicamkan, mereka “tidak hanya yang penting beda,” namun, berangkat dari berbagai teori yang kuat, dibentengi literatur pendukung, penjabaran yang cerdas. Bukan main-main!

Saya pribadi, dengan sesadar-sadarnya–terlintas dibenakpun tidak–pastilah bukan pada kapasitas untuk menengahi, apalagi memihak pihak sana, dan melawan pihak sini. Bukan, bukan itu. Akan tetapi, yang ingin saya coba tunjukan adalah : bagaimana kekuatan, keampuhan, kesaktian sebuah tulisan (sastra), bila berada di genggaman orang yang tepat; bisa di luncurkan ke benak khalayak ramai, berdampak menggugat pikiran, menjadi polemik, untuk kemudian ditandingi peluncuran ilmu pihak lain; terpampanglah sebuah “adu ilmu” yang berkelas, membuat mulut ternganga, dan hasil akhirnya : sebuah pencerahan publik.

Momentum Sastra

Kisah tadi, bila kita mau runut kebelakang, bukanlah satu-satunya “peristiwa sejarah” yang ditorehkan dalam dunia sastra masyarakat kita. Bulan September 1982, seorang pemuda (19 tahun) Ynt alias JLD, dijatuhi hukuman penjara oleh Hakim Pengadilan Negeri Ujung Pandang, karena tuntutan RIB : seorang gadis (18 tahun), hanya gara-gara merasa namanya tercemar dalam sebuah cerpen berjudul “Kenangan Manis di SMA.” Di cerpen itu, ada tokoh gadis RIB, yang dicium oleh JLD.

Tak lama berselang, Seno Gumira Ajidarma, langsung protes keras lewat tulisan-nya di Kompas. Ia membela mati-matian sang pengarang cerpen (Ynt alias JLD). Kisah nyata, sungguh terjadi.

Lalu, peristiwa yang tidak kalah fenomenal (mungkin satu-satunya, cuma terjadi sekali dalam seluruh perjalanan kasusastran di tanah air); juga menjadi polemik, sorotan, dan tanggapan yang menerus dari nama-nama tenar di jagad sastra pada waktu itu–kurang lebih 1 tahun di Koran Kedaulatan Rakyat (Yogya)–adalah dimulai dari opini : Es Wibowo, seorang sastrawan dan budayawan yang tinggal di Magelang.

Bertolak dari kegelisahan batin dan provokasi lantang, tentang : perlunya Forum Dialog Budaya di Kedu (Kedaulatan Rakyat, 13/2/1994), segera ditimpali oleh : Joko Supriyono, Andreas Darmanto, Ahmed Dalady, Ustadji PW. Di imaji saya–bagaimana ketika itu, masyarakat Indonesia–disuguhi sebuah pertunjukan sastra yang berkelas, ilmu-ilmu/ ide pikiran yang berbobot, dilontarkan keluar, bertanding, saling bertabrakan di udara intelektual, dan juga mendarat, hinggap di benak publik. Apalagi, berlangsung hampir 1 tahun, apakah tidak luar biasa? Dimanakah bisa mencari peristiwa kembaran-nya?

Sejarah sastra yang mencengangkan itu, akhirnya memaksa seorang Linus Suryadi AG, turun gunung. Datang secara pribadi, menemui Es Wibowo. Dan lalu, Linus menutup “pagelaran“ tersebut, dengan tulisan-nya di media yang sama. Tamat. Sungguh cantik!

Tantangan Kekinian

 Sastra telah membekaskan tapak sejarah yang elok. Sebuah karya sastra yang menjadi polemik dan melegenda, tidak lahir dalam semalam. Ia pastilah lahir dari kristalisasi, kerja keras, keringat, dari hasil olah batin, lelaku, dan daya renung yang dalam. Bukan sekedar “perlombaan” banyak-banyakan di muat di media. Atau menulis buku yang “best seller,” laku keras, namun isinya kosong, tanpa ruh, ampang. Tidak ada jiwa yang dirubah, setelah membacanya.

Ya, sastra adalah sesuatu yang maha penting. Bahkan, beberapa “menyetarakannya” dengan ranah filsafat dan agama. Mempunyai visi akhir yang menyerempet sama : menggali nilai-nilai terluhur manusia, mengangkatnya, menggendong, untuk kemudian menggeletakkan-nya, pada tempat, derajat, dan peradaban yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sastra juga harus menjadi jawaban. Sastra tidak pernah bisa berpisah, tidak pernah bisa berdiri sendiri, tidak pernah bisa lenggang kangkung, berjalan menjauh dari masalah bangsa. Tidak, tidak akan pernah bisa! Para sastrawan (aktivis seni/budaya), dipanggil memanggul “gelar” itu, bukan untuk berleha-leha, menyelonjorkan kaki dan duduk di kursi goyang; menonton tv kabel berbayar, sambil menunggu undangan menjadi pembicara seminar atau sarasehan.

Sastra adalah tentang pergolakan dan pembelaan, ia akan terus hidup dan bergerak, bertempur tanpa lelah sepanjang zaman, walau penulisnya sudah berpulang. Sastra itu sebenarnya sangat ampuh, ya, sangat ampuh. Gunakanlah sehebat-hebatnya, dan mohon jangan dimatikan.

 

(*) Penulis : Agung Pramudyanto

Esais dan Pendiri Pamulang

(Paguyuban Pembaca dan Penulis Magelang)

 

Iklan
Dipublikasi di menulis | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Di Balik Kasus Samad dan BW, Ada Skenario Membekukan KPK

save kpk 2 JAKARTA, kOMPAS.com —Penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dinilai sebagai bagian dari konspirasi untuk membekukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Berbagai pihak menengarai hal ini menjadi hambatan tersendiri bagi pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menyatakan, nantinya, tidak hanya Bambang yang akan “dihabisi”, tetapi juga Abraham Samad. Ketua KPK nantinya akan dianggap melanggar etika sehingga dipaksa mundur.

“Nantinya, pimpinan KPK hanya tinggal dua orang. Busyro habis masa jabatannya, tinggal Pandu Praja dan Zulkarnain,” kata Hendri kepada wartawan, Jumat (23/1/2015).

Dia menyatakan, Presiden Jokowi harus bertindak dan harus menjadi penengah yang memberikan kekuatan bagi pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Bukan malah melemahkan,” kata Hendri.

Berawal dari semangat berantas korupsi di kepolisian

Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Sosial dan Politik (Puspol) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menyebutkan, konspirasi ini bermula dari semangat KPK untuk memberantas korupsi di kepolisian.

Menurut dia, Kalemdikpol yang juga calon tunggal kepala Polri, Komjen Budi Gunawan, menjadi tersangka. Meskipun sudah berstatus tersangka, DPR tetap melakukan uji kelayakan dan kepatutan. “Ini parah sekali,” katanya.

Tak lama setelah Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka, muncul “foto mesra” yang diduga Ketua KPK Abraham Samad dengan Puteri Indonesia. Foto ini diduga palsu dan dimunculkan sebagai bentuk perlawanan atas ditetapkannya Budi Gunawan sebagai tersangka.

Presiden Jokowi kemudian menunda pelantikan Budi Gunawan. Dia mengangkat Pelaksana Tugas Kapolri, yaitu Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti. Jenderal (Pol) Sutarman yang masa tugasnya masih ada hingga Oktober 2015 ini diberhentikan.

Ubedillah kemudian menyayangkan upaya Plt Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto yang membeberkan dugaan adanya pertemuan antara petinggi PDI-P dengan Abraham Samad. Ketua KPK itu dinilainya ingin menjadi wapres mendampingi Jokowi pada pilpres kemarin.

“Ya ini harus dibuktikan. Kalau tak terbukti, sangat memalukan. Bisa jadi bumerang bagi yang mengutarakan hal ini,” kata Ubed.

Kini, Bareskrim menetapkan Bambang Widjojanto sebagai tersangka yang mengkoordinasi pemberian saksi palsu dalam sidang Mahkamah Konstitusi. Sidang ini berkaitan dengan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat. Pada saat itu, Bambang menjadi pengacara salah satu pihak bersengketa.

Siapa yang kuat

Ubedillah menilai, kejadian ini adalah “bola liar”. Semua pihak memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan siapa yang kuat.

“Kalau KPK tidak mampu membuktikan Budi Gunawan bersalah, maka KPK akan kehilangan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

KPK akan dianggap sama dengan lembaga hukum lainnya, Polri, Kejaksaan Agung, MK, yang oknumnya sudah pernah terseret dalam proses hukum. Diketahui, massa yang membela KPK habis-habisan turun ke jalan, menyambangi kantor KPK, untuk memberikan dukungan. (Wahyu Aji)

 

Dipublikasi di berita, politik | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Samad Telepon Jenderal Moeldoko Minta Pasukan Pengamanan Tambahan di KPK

save kpk 1Jakarta – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelepon Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. Ia meminta bantuan pasukan pengamanan tambahan di Gedung KPK malam ini.

Menurut informasi yang diterima detikcom, Samad baru saja menelepon Moeldoko malam ini. Hal soal pengamanan tambahan itu dibenarkan oleh Deputi Pencegahan KPK Johan Budi.

“Jadi memang benar KPK dibackup oleh tim pengamanan yang jumlahnya cukup banyak di luar Polri,” kata Johan kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015) malam.

Pengamanan tambahan ini untuk mengantisipasi. Ada kabar bahwa beberapa petugas Bareskrim Polri akan datang ke KPK untuk menggeledah ruangan kerja BW.

Dipublikasi di berita, politik | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

The 5 Worst Moments From Last Night’s State of the Union

TIME

The annual State of the Union Address (SOTU) is a rotten, time-honored ritual that marks the effective end of the holiday season in America. It’s like one last fruit cake that nobody wants and quickly tosses away after a moment of utterly false contemplation.

There were some tasty bits, for sure, in Obama’s seventh SOTU: He is correct to push for change in our policy with Cuba and his “conversion” in favor of marriage equality, however long overdue and politically motivated, is all to the good.

He promised his speech wouldn’t be a “laundry list.” True enough: It was more like a laundry truck, stuffed full of old and misguided ideas from his previous SOTUs. Before the speech slides down the memory hole, here are five moments to remember and then forget again until next year.

1. “Today, fewer than 15,000 [troops] remain” in Afghanistan and Iraq, said Obama. That’s…

Lihat pos aslinya 835 kata lagi

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Koneksi Mandela-Soekarno

sekali lagi..bung karno..

RUMAH OPINI

Koneksi Mandela-Soekarno
Yudi Latif  ;   Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan
KOMPAS,  24 Desember 2013
  
NELSON Mandela terkejut bukan kepalang. Berkunjung ke Gedung Merdeka Bandung pada tahun 1990, ia tidak menemukan foto Bung Karno. ”Mana foto Soekarno? Semua pemimpin Asia Afrika datang ke Bandung karena Soekarno. Di mana gambarnya?” tanya Mandela kepada pejabat Indonesia yang mendampinginya.

Menengok ruang sidang, kenangan masa lalunya kembali membayang. Pada usia 37 tahun, sebagai pejuang kemerdekaan antiapartheid dari The African National Congress (ANC), ia terinspirasi pidato Presiden Soekarno. Dalam membuka Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955, Bung Karno mengingatkan: 

”Perjuangan melawan kolonialisme berlangsung sudah sangat lama, dan tahukah Tuan-tuan, bahwa hari ini adalah hari ulang tahun yang masyhur dalam perjuangan itu? Pada tanggal 18 April 1775, kini tepat 180 tahun yang lalu, Paul Revere pada tengah malam mengendarai kuda melalui Distrik New England memberitahukan tentang kedatangan pasukan-pasukan Inggris dan tentang permulaan…

Lihat pos aslinya 490 kata lagi

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Hidup yang Terbalik

berpikir liar…

Rumah Filsafat

timedotcom timedotcom

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Banyak orang kini menjalani hidup yang terbalik. Apa yang buruk dikiranya sebagai baik, dan apa yang baik kini dianggap sebagai sesuatu yang aneh, bahkan jahat. Gejala ini tersebar di berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik sampai dengan keluarga. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana kita menyingkapinya?

Hidup yang Terbalik

Banyak orang merasa dirinya hidup. Mereka bangun pagi, bekerja, makan lalu tidur. Seumur hidupnya, mereka mengikuti apa kata orang, yakni apa yang diinginkan masyarakatnya untuk dirinya. Mereka memang hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup, karena terus tunduk pada dunia di luar dirinya.

Mereka berbuat sesuatu, karena masyarakat menginginkannya. Mereka menolak untuk hidup dalam kebebasan, karena itu menakutkan. Orang-orang ini menjalani hidup-yang-bukan-hidup. Mereka hidup, namun sebenarnya sudah mati.

Lihat pos aslinya 1.274 kata lagi

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Kapolri Pengganti Sutarman Harus Ramah

budi gunawan 1REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemimpin Polri ke depan harus ramah dan merakyat, seperti apa yang dicontohkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sehingga polisi akan selalu ada saat dibutuhkan masyarakat.

Selain itu, dengan berbekal keramahan semua masalah yang ditangani Polri akan bisa terpecahkan dengan baik. “Jiwa yang ramah dan merakyat pada kandidat kapolri, sangat penting. Karena keramahan ini akan mampu menyelesaikan masalah hukum dan menciptakan komukasi yang baik,” kata tokoh nasional dari bidang olah raga bela diri, AA Drajad, Jumat (2/1).

Karenanya, dari empat calon kuat yang akan memperebutkan jabatan kapolri, AA Drajad lebih condong kepada Komjen Pol Budi Gunawan. “Keramahan akan menjadi alat komunikasi yang baik di manapun. Masalah apa pun akan bisa terselesaikan dengan keramahan,” katanya.

Selain itu, tambah dia, pemimpin Polri juga harus sudah teruji memimpin wilayah yang memiliki tingkat konflik dan masalah tinggi. Dengan begitu, tambah pemilik perguruan bela diri Tarung Drajad ini, kemampuannya dalam mengatasi masalah yang lebih besar tidak perlu diragukan lagi.

Kemampuan komunikasi yang dimiliki Budi Gunawan, tambahnya, akan bisa menyelesaikan kasus bentrokan TNI-Polri. “Komunikasi yang dimilikinya sudah tingkat tinggi, apalagi Budi Gunawan pernah menjadi ajudan Megawati,” katanya.

Komjen Pol Budi Gunawan yang saat ini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) masuk dalam kandidat kuat Kapolri untuk menggantikan Jenderal Pol Sutarman yang akan pensiun pada 2015. Budi dinilai cakap karena kariernya di kepolisian berjalan lancar.

Bahkan ia merupakan lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 83.  Peraih penghargaan Adhi Makayasa itu juga tercatat sebagai peringkat satu dan lulusan terbaik di setiap pendidikan Polri yang dilaluinya. Seperti PTIK, SEspim, Sespati, dan Lemhanas

Dipublikasi di berita, politik | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Ilmu Pengetahuan dan Kehancuran Kita

cukup menggugat pikiran!

Rumah Filsafat

flickr.com flickr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di Jerman

Hidup kita sekarang ini sungguh tercabut dari alam. Kita merasa terasing dengan tanaman dan hewan. Padahal, keduanya adalah sumber kehidupan kita. Tanpa mereka, kita akan punah.

Justru sebaliknya, hidup kita malah semakin tidak alami. Kita bersentuhan dengan beton dan besi, tetapi justru jijik dengan tanah dan pohon. Padahal, tanpa tanah dan pohon, kita tidak akan dapat hidup.

Kita tidak hanya semakin jauh dari alam. Kita justru menghancurkan alam. Kita mengeruk sumber daya alam tanpa kendali nurani. Kita menggunakan energi, tanpa peduli dari mana energi itu berasal.

Kita asik makan daging di restoran. Namun, kita mengabaikan fakta, bahwa banyak hewan digunakan dan dihancurkan hidupnya oleh perusahaan-perusahaan daging raksasa. Seperti dinyatakan oleh Peter Singer, salah satu tokoh etika hewan (animal ethics), hubungan manusia dengan hewan sama seperti hubungan antara Hitler dengan orang-orang Yahudi…

Lihat pos aslinya 1.140 kata lagi

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Tidak Tahu

sejenak belajar filsafat, di malam minggu…

Rumah Filsafat

deathandtaxesmag.com deathandtaxesmag.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Sokrates dikenal sebagai bapak dari filsafat barat. Ia hidup sekitar 470 tahun sebelum Masehi. Ia memiliki cara berfilsafat yang unik. Ia tidak berfilsafat di kelas atau ruang-ruang tertutup lainnya, melainkan di pasar di kota Athena.

Ia berjalan berkeliling di pasar. Ia pun berteriak kepada banyak orang, “Kamu harus mengenal dirimu sendiri! Kamu sungguh harus mengenal dirimu sendiri!” Ketika ada orang bertanya kepadanya, “Hai Sokrates, apakah kamu mengenal dirimu sendiri?” Sokrates hanya menjawab, “Saya tidak tahu, namun saya tahu, bahwa saya tidak tahu!”

Bodhidharma dikenal sebagai orang yang membawa Zen Buddhisme dari India ke Cina. Di India sendiri, Buddhisme sudah berkembang dari sekitar tahun 680 sebelum Masehi. Di Cina, Buddhisme sudah ada mulai dari sekitar tahun 200 setelah Masehi. Kehadiran Bodhidharma mengundang takut sekaligus kagum dari para biksu Buddhis yang sudah ada Cina pada masa…

Lihat pos aslinya 778 kata lagi

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Elon Musk Divorces His Wife Again

TIME

Less than 18 months after his second wedding to actress Talulah Riley, Elon Musk has once again parted ways with his wife. The PayPal, SpaceX and Tesla Motors founder filed for divorce on New Year’s Eve in Los Angeles.

The couple has reportedly reached an amicable settlement of $16 million in cash and other assets for Riley.

Musk and Riley previously divorced after four years in Jan. 2012, then remarried the next year. They have never had children together, though Musk has five sons from a previous marriage.

Maybe the third time will be the charm.

[AP]

Lihat pos aslinya

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar